Cawapres No Urut 3 Mahfud MD ( Dok Pribadi Mahfud )
JAKARTA | GRANEONEWS.COM – Calon Wakil Presiden Nomor Urut 3 Profesor Mahfud MD secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) RI.
Pengumuman itu disampaikan Mahfud di depan Pura Ulun Danu yang terletak di tengah Danau Tirta Gangga, Desa Swastika Buana, Kecamatan Seputih Banyak, Lampung Tengah, Rabu (31/1/2023).
“Hari ini saya sudah membawa surat untuk disampaikan ke presiden tentang masa depan politik saya yang belakangan menjadi perbincangan publik,” ujar Mahfud.
Pihaknya menegaskan sudah menyiapkan surat pengunduran dirinya dan akan segera menyerahkannya langsung ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Kamis (1/2/2023) hari ini. Menurutnya dirinya ingin pamit baik-baik.
“Kalau di Jawa itu ada istilah tinggal glanggang colong playu, pergi begitu saja. Saya tidak mau pergi begitu saja. Tapi, saya dengan penuh kehormatan akan menghadap kepada presiden dan menyampaikan permohonan itu,” tuturnya .
Sementara itu menurut Arifki Chaniago ,Analis Politik dan Direktur Eksekutif Aljabar Strategic, menilai Mahfud bakal memanfaatkan masa kampanye yang tersisa untuk mengkritik Jokowi secara terbuka. Menurutnya keputusan tersebut bisa mempengaruhi elektoral pasangan GAMA namun tidak besar.
“Secara elektoral, dampaknya tentu ada tetapi tidak besar. Tetapi, dampak elektoral tersebut juga harus bersaing dengan narasi yang dimainkan oleh Anies-Imin, dan di momentum waktu yang pendek ini, jika pilpres dua putaran tentu Ganjar-Mahfud harus bisa memastikan masuk ke putaran dua dulu,” tuturnya.
Pihaknya menilai langkah politik Mahfud yang mengundurkan diri cukup baik untuk membangun personal branding, namun menurutnya langkah yang diambil Mahfud MD agak terlambat karena dilakukan hanya dua pekan menjelang hari pencoblosan.
Ia menambahkan bahwa Mahfud seperti ingin memanfaatkan waktu yang tersisa untuk meyakinkan publik mengenai integritas politiknya.
“Secara positioning politik langkah Mahfud MD mundur itu terlambat, karena tidak bisa lagi memanfaatkan posisinya di luar kekuasaan pada momentum debat cawapres. Kayaknya filosofi yang dipakai oleh Mahfud MD lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” ujarnya .
Meski demikian menurutnya, dengan tidak adanya Mahfud di Kabinet akan membuat Mahfud lebih leluasa untuk melakuka kritik pemerintahan Jokowi.
Lebih lanjut menurut Arifki , keputusan Mahfud, membawa pesan politik untuk menteri lainnya di kabinet Jokowi yang kontra dengan narasi keberlanjutan. Menteri yang pada satu sisi ingin tetap berada di pemerintahan Jokowi, tetapi di sisi lain ingin oposisi dan perubahan pasca-2024.
“Tidak bisa dipungkiri, partai pengusung paslon 1 dan 3 masih banyak yang berada di pemerintahan. Namun, dari segi beban politik paslon 3 lebih berat melawan branding kedekatannya dengan Jokowi dibandingkan paslon 1 yakni pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar ,” tutupnya .
Share this content:
