Mantan Relawan Prabowo Gibran Maluhu ( Sumber :Layar Istimewa )

Tenggarong | GRANEONEWS.COM – Sebuah rekaman video pilu yang diambil di Kelurahan Maluhu, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur beredar di media sosial, rekaman membongkar nasib seorang mantan relawan  pasangan Prabowo- Gibran yang dulu berjuang tanpa dibayar. 

Namun, ia kini justru menjadi salah satu dari puluhan ribu karyawan sektor pertambangan yang terancam terkena dampak pemutusan hubungan kerja (PHK) massal akibat penyesuaian aturan kuota produksi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Pria tersebut mengungkapkan kesedihannya bahwa kehidupan rakyat kecil seperti mereka sangat bergantung pada kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Namun kenyatannya, alih-alih mendapatkan perlindungan, nasib mereka justru menjadi semakin tidak jelas. Di tengah ancaman hilangnya mata pencaharian, ia mengeluhkan beban hidup yang terus menghimpit karena pemerintah tetap menuntut rakyat untuk membayar semua keperluan hidup, mulai dari tagihan listrik, air minum, hingga berbagai beban pajak yang harus selalu mereka tanggung.

Dalam video tersebut, dengan nada bergetar sang mantan relawan secara lantang mempertanyakan nasibnya langsung kepada Presiden RI Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, DPP Partai Gerindra , hingga Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji.

 Ia menagih janji dan kepedulian para petinggi atas nasib anak-istrinya yang kini terancam kelaparan akibat kebijakan yang dinilai kurang berpihak pada buruh kecil di garis bawah.

Tak hanya itu, ia juga mempertanyakan kejelasan kapan Koperasi Desa Merah Putih Maluhu akan resmi dibuka untuk umum. Di tengah keputusasaannya, ia menaruh harapan besar dan mempertanyakan apakah dirinya bisa dipekerjakan, setidaknya menjadi supir di koperasi tersebut demi bisa menyambung hidup keluarganya.

Unggahan video ini pun langsung memicu reaksi keras dari warganet. Banyak netizen yang mengecam ketimpangan antara pidato politik yang manis di panggung dengan realita pahit di lapangan, di mana puluhan ribu buruh lokal dan relawan yang dulunya berjuang memenangkan pimpinan saat ini justru merasa dikorbankan tanpa adanya kepastian solusi pekerjaan yang konkret. ( * )

Share this content:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *