Gambar ( Ilustrasi )

Banten | GRANEONEWS.COM – Upaya pencarian besar-besaran terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang misterius di perairan Selat Sunda kini berada di batas waktu krusial. Memasuki hari kesembilan pasca-hilangnya rombongan peliput erupsi Gunung Anak Krakatau tersebut, Tim SAR Gabungan yang menerjunkan armada sebanyak 22 kapal dan menyisir area lautan seluas 3.439 mil laut persegi masih belum menemukan titik terang (nihil).

Berdasarkan aturan baku dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), hari Kamis ini (17/9/2026) menjadi batas akhir perpanjangan masa operasi pencarian. Kepala Kantor Basarnas Banten, Al Amrad, menjelaskan bahwa apabila indikasi keberadaan para korban tidak juga ditemukan hingga waktu yang ditentukan, maka operasi pencarian berskala besar akan disudahi dan statusnya dialihkan ke tahap pemantauan secara berkala.

Kelima jurnalis yang hingga kini masih terus dicari bersama tiga kru kapal lokal tersebut adalah:

M. Bagus Khoirunnas – Jurnalis LKBN ANTARA (Biro Banten)

Arie Basuki – Jurnalis Foto Merdeka.com

Yudistiro Pranoto (Yudhis) – Jurnalis iNews TV

Firdaus Wajidi (Daus) – Jurnalis Anadolu Agency (Kantor Berita Turki)

Donal Husni – Jurnalis Foto Lepas (Freelance)

Berikut adalah beberapa perkembangan penting dari posko penyelamatan di lapangan:

1. Radius Penyisiran Diperluas Sampai Bengkulu

Fokus pencarian kini tidak lagi hanya terpaku di area sekitar lereng tenggara Gunung Anak Krakatau dan Selat Sunda.

Rute pelacakan kini ditarik jauh hingga mencakup kawasan perairan luar dan pesisir Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu.

2. Identifikasi Temuan Jenazah di Pulau Enggano

Petugas di lapangan sempat menemukan sesosok jenazah pria tanpa identitas yang terdampar di Pulau Enggano.

Pihak Polda Banten menyatakan bahwa jasad tersebut telah dievakuasi dan sedang menjalani prosedur tes DNA untuk dicocokkan dengan data keluarga korban.

Masyarakat diminta menahan diri dari berbagai spekulasi mengingat kondisi fisik jenazah yang sudah mengalami kerusakan parah akibat hantaman laut.

3. Klarifikasi Hoaks Rekaman Kamera Drone

Terkait video drone yang beredar luas di media sosial mengenai adanya penampakan lambung perahu terbalik di dekat gunung, Tim SAR memastikan kabar itu adalah hoaks.

Petugas yang mendatangi koordinat di dalam video tidak menemukan bukti material apa pun di lokasi tersebut.

4. Kendala Cuaca Ekstrem dan Abu Vulkanik

Tantangan terbesar yang dihadapi puluhan kapal penyelamat milik TNI-Polri dan Basarnas adalah “zona merah” erupsi.

Hujan abu vulkanik tebal yang terus menyelimuti area Selat Sunda disertai gelombang laut yang tinggi membuat jarak pandang tim di lapangan menjadi sangat terbatas.

Di tengah situasi genting ini, gelombang simpati berupa doa bersama dan dukungan moral terus mengalir dari berbagai organisasi pers di tanah air. Pihak keluarga dari para jurnalis dan kru kapal menyatakan telah berserah kepada keputusan terbaik dari Tuhan, sembari menaruh asa pada mukjizat di detik-detik akhir pemantauan petugas. (*)

Share this content:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *