Kutai Barat ,GRANEONEWS.COM – , Suku Banjar atau orang Banjar , adalah salah satu suku bangsa Indonesia yang di kenal sebagai suku perantau yang mereka sebut dengan tradisi madam .
Keberadaan Suku Banjar tersebar dihampir semua wilayah Nusantara , bahkan sampai ke mancanegara . Demikian pula di Kalimantan Timur , suku Banjar dapat dibilang sebagai salah satu suku terbesar , mereka banyak menempati posisi yang sangat strategis .
Orang Banjar menduduki posisi Pemerintahan , politik ,hukum perdagangan ,agama bahkan mereka juga berperan sangat kuat dalam konteks dunia organisasi kedaerahan .
Di Samarinda Provinsi Kalimantan Timur , Bahasa Banjar menjadi bahasa lingua Franca yang menjadi bahasa pergaulan sehari – hari oleh semua suku bangsa yang tinggal diwilayah samarinda .
Banyak hal yang mengikuti kenapa orang Banjar melakukan madam , baik itu karena syiar agama , mencari penghidupan bahkan ada juga yang harus melaksanakan madam karena dampak politik masa lalu , dalam hal ini masa – masa kerajaan atau kesultanan .
Demikian halnya dengan apa yang terjadi di Kampung Bakung , sebuah desa atau kampung yang berada di pesisir sungai Mahakam,yang berada dalam wilayah Kecamatan Penyinggahan Kabupaten Kutai Barat ,Kalimantan Timur , mayoritas penduduknya masih satu kerabat yang berasal dari suku Banjar Kalimantan Selatan .
Tidak ada catatan pasti kapan mereka mendiami kampung Bakung ini , namun berdasarkan cerita dari mulut kemulut mereka mendiami kampung ini sejak ratusan tahun yang lalu , konon mereka sudah berada di kampung tersebut jauh sebelum Indonesia berdiri .
Berdasarkan sejarah yang di ketahui secara lisan hingga saat ini , didapati sebuah kisah bahwa ,Kampung Bakung didirikan oleh Gusti Kituk ( nama aslinya tidak diketahui ) dan Gusti Abdul Wahab serta Kerabat lainnya .
Disebutkan bahwa Gusti Kituk dan 2 orang saudaranya adalah orang – orang sakti dan ahli ilmu agama yang berasal dari tanah Banjar dan masih kerabat kesultanan Banjar bahkan masih memiliki darah ahlul bait dari jalur Alaydrus ,mereka inilah yang awalnya mendirikan Kampung Bakung itu .
Sayangnya catatan bahkan makam para pendiri kampung ini tidak diketahui keberadaannya , sebelum adanya sistem pemerintahan Bakung pertama kali pimpin oleh Gusti Abdul Wahab Bin Gusti Kituk dengan status tokoh dan tetua kampung yang mengatur serta menjadi rujukan dalam setiap keputusan kampung .
Dengan perkembangnya dan bertambahnya penduduk akhirnya dibentuklah suatu Pemerintahan yang berupa Rukun Tetangga (RT). Adapun yang pernah menjabat sebagai Ketua RT yang pertama kali bernama Gusti Rakdi adik sepupu Gusti Abdul Wahab, yang kedua bernama Gusti Haidir anak dari Gusti Badrak ,Gusti Haidir merupakan keponakan dari Gusti Gustaf Abdul Wahab.
Sebelum Kampung Bakung memiliki pemerintahan sendiri statusnya hanya sebagai Dusun dan Ketua Rukun Tetangga bagian dari Kampung Minta .
Pada tahun 2000 masyarakat Mengajukan memohon pemekaran dan direalisasikan sejak 2009, maka sejak 5 Desember 2009dusun Bakung resmi berubah statusnya menjadi Kampung / Desa depinitif di Kecamatan Penyinggahan ,Kutai Barat .
Hingga kini masyarakat Bakung tetap menggunakan Bahasa Banjar walaupun mereka berada di tanah Kutai .
Nama Bakung diambil dari nama Sungai dan di sepanjang sungai ditumbuhi oleh Bunga Bakung dan sungai tersebut terdapat dibalakang Kampung Bakung sampai sekarang sugai tersebut masih ada. ( Red)
Share this content:
