TENGGARONG | GRANEONEWS.COM – Dampak angin muson timur yang melewati Indonesia kali ini  memberikan dampak negatif dan positif untuk Indonesia ,khususnya Kutai Kartanegara .

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) memperkirakan kemarau akan berlangsung hingga Oktober . Hal  ini  tentunya tidak hanya berdampak terhadap alam , namun juga berimbas terhadap kehidupan manusia .

Bagi para petani musim mosun biasanya hasil panen bisa berlimpah , demikian halnya untuk para nelayan berada dipesisir laut , mosun dianggap menguntungkan,  karena biasanya  mempermudah mereka untuk melaut.

Muson yang menyebabkan kemarau ini , merupakan berkah pula bagi masyarakat nelayan tradisional yang tinggal di bantaran sungai Mahakam , Kondisi ini membuat hasil tangkapan ikan menjadi lebih berlimpah walau hanya menggunakan alat tangkap seadanya . 

Namun cerita berbeda untuk nelayan tangkap perairan darat justru sebaliknya , mosun akan berdampak buruk bagi kelangsungan ekonomi keluarga mereka .

Seperti yang terjadi diwilayah Kutai Kartanegara , Danau Semayang di Kecamatan Kenohan dengan luas kurang lebih 13.000 hektar , kedalaman rata – rata 3,5 meter tersebut mengering . Danau Melintang yang berada di Muara Wis dengan luas mencapai 11.000 hektar dengan kedalaman rata – rata 2,0 meter mengalami hal serupa .

Kedua Danau besar ini adalah nadi kehidupan masyarakat Kukar yang berprofesi sebagai nelayan tangkap perairan darat .
Keringnya danau Semayang dan Melintang membuat masyarakat yang berada dipesisir kedua danau tersebut harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya .

Seperti Desa Melintang , Semayang, Muara Enggelam, Kahala dan Tanjung Batu , adalah desa yang terdapak langsung oleh Muson. Warga setempat yang berprofesi sebagai nelayan yang mencari ikan didanau kehilangan mata pencahariannya .

50b1cdc3489f4e0daf0f86eed9001679_366019511_1021552492312955_6031694762676383622_n-1024x1024 DAMPAK MUSON , DESA PELA SULAP WISATA DANAU MENJADI DESTINASI BIOMA STEPA

Namun ada juga desa sigap dengan situasi yang terjadi , seperti Desa Pela,Kecamatan Kota Bangun , yang juga berada di pesisir danau Semayang .
Pela selama ini dikenal sebagai desa wisata , yang mengandalkan danau Semayang sebagai objek wisata dengan pesona Pesut Mahakam ,  memanfaatkan keringnya danau sebagai destinasi wisata musiman.

Danau Semayang yang selama ini merupakan kumpulan air , berubah hijau, berbagai jenis rerumputan hijau tumbuh dengan suburnya disana . Momen ini tidak disia – siakan oleh masyarakat Desa Pela , Wisata Danau dan Pesut Mahakam berubah menjadi Destinasi wisata Bioma Stepa .

Berbagai kegiatan buat oleh warga Pela , mulai dari pentas seni hingga even berskala besar digelar dipadang rumput hijau tersebut , akhirnya masyarakat mendapatkan dua keuntungan sekaligus , yakni beruntung mendapat hiburan gratis dan tentunya mendapatkan keuntungan secara ekonomi keluarga . (*)

Penulis : Monalisa

Share this content:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *